CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Tuesday, October 16, 2012

Cerpen Pengalaman Pribadi

Arti Sahabat

Ujian sekolah telah tiba, laporan-laporan masih belum terselesaikan dan sekarang muncul pula masalah yang memusingkan kepala. Pagi itu dia datang dengan wajah cemberutnya yang membuat aku bingung, heran, kaget, dan di kepalaku seakan penuh dengan tanda tanya yang seakan memangsa diriku sampai tak berdaya. Aku hanya bisa terdiam di sebuah bangku sebelah pojok kanan ruang kelas. Duduk sendiri dan tak ada yang mengajakku bicara. Ya, dia yang membuatku seperti ini, dia sahabat karibku, sahabat yang selama ini ada di sampingku, berjuang dan hidup di tempat yang sama, tak jarang kami makan, bermain, dan belajar bersama. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus terenggut begitu saja.

Hari-hari kulewati tanpa senyuman dan candaannya. Semakin lama aku semakin tak kuasa melihat persahabatanku dengannya renggang. Padahal menurutku tak ada yang salah, kami tetap seperti dulu akrab dan selalu bersama, dimana-mana berdua, dimana ada aku pasti disitu ada dia. Tapi seketika seolah ada bencana yang datang menghadang, ombak yang besar menghancurkan sendi-sendi persahabatan kami, yang ada hanya puing-puing tak berarti. Aku sedih? Iya, aku sangat sedih! Dalam waktu sekejap persahabatan yang indah itu hancur berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kataq yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup ketika melihatku tanpa komando.
Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah menjadi perpisahan. Meski raga bersatu tapi jiwa terpisah. Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi? Mengapa kesedihan ini harus terulang kembali? Mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi? Ah.. semua itu hanya beberapa pertanyaan yang tak ada jawabannya,  pertanyaan hanya tinggal tanya! Aku tetaplah insan yang lemah yang tak punya daya. Aku tak bisa mengelak dari bencana itu.
“Ma, besok tugas makalah Biologi kita harus segara dikumpulkan, tadi saat istirahat Pak Muhyidin pesan” kataku memberanikan diri menghampirinya.
Aku sangat ingin hubunganku dengannya bisa kembali seperti dulu. Itulah kenapa aku mati-matian mengungkapkan sepatah dua patah kata padanya. Aku tidak peduli dia mau dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak pun aku juga tidak peduli. Biar saja, yang penting tugas dan kewajibanku selesai. Dia mengangguk sambil bergumam pelan, aku tidak sempat mendengar gumaman itu karena aku terlanjur mengangkat kaki darisana, aku tak punya daya untuk terus menopang kaki di tempat itu. Tak ada ucapan terimakasih yang aku dengar dari bibirnya.
Lambat laun perubahan keadaan persahabatanku itu tercium juga. Aku ditemui Laila setelah sholat Dhuhur berjamaah di Masjid sekolah.
“Zahra, kamu ada masalah apa sih sama Ima? Kok sekarang agak renggang gitu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan besalaman setelah sholat.
“aku juga nggak tau La kenapa bisa jadi begini.” Ujarku dengan nada sedih.
“awalnya gimana kejadiannya Ra?” Laila kembali bertanya.
“awalnya tadi pagi saat aku masuk kelas, Ima seperti memberiku kesan sinis dan cuek. Aku juga nggak tau kenapa dia bisa seperti itu, padahal kemarin masih baik-baik saja.” Kataku dengan nada semakin sedih.
“oh gitu, mungkin ini hanya kesalahpahaman biasa. Kamu harus tetap menyapa dan berbicara padanya, jangan terus-terusan diam seperti ini. Kamu juga jangan takut dicuekin, itu tantangan bagi kamu, dan kamu pasti bisa.” Laila menasehatiku.
“iya La, makasih ya. Aku akan berusaha agar persahabatanku bisa kembali seperti dulu lagi.” Ujarku lagi.
 Aku menggerakkan bibir sambil membentuknya menjadi lebih indah, itu senyuman manis yang aku ciptakan. Aku berharap senyuman itu bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyuman itu tinggal senyuman tak berarti, senyuman manisku teracuhkan begitu saja, dia melengah tanpa membalas sedikitpun. Hati menyuruh sabar, sabar, dan tetap sabar. Ya, perjuangan belum usai! Aku tak boleh menyerah! Aku harus tetap berjuang sampai senyuman manisku dibalas dengan senyuman yang paling manis.
Esok harinya setelah ujian sekolah usai aku berjalan menuju tempat parkir sepeda motor. Baru sampai depan kelas kulihat Laila sedang berbicara empat mata dengan Ima di taman depan. Aku tak tau apa yang sedang mereka bicarakan, tapi kelihatannya mereka sedang berbicara serius. Ah.. entahlah aku tak tau, aku melanjutkan langkahku ke parkiran sekolah untuk mengambil motorku dan segera pulang. Aku tak sabar ingin menggeletakkan badanku di atas tempat tidur.
Sesampainya dirumah  aku langsung menuju kamar dan langsung menggeletakkan badanku yang lemas tak berdaya. Tak peduli aku masih menggunakan putih abu-abu. Rasa lelah, pusing, dan gerah karena sinar matahari  yang sangat terik, tanpa sadar membuat aku tertidur pulas.
Drrrt..drrrt..drrrt.. getaran itu tak asing lagi buatku. Ya, itu adalah isyarat pesan di handphoneku. Akupun terbangun dan melihat ada pesan singkat yang menungguku untuk dibuka. Saat itu juga langsung ku buka pesan itu dengan mata yang masih sedikit menutup. Ah..ternyata pesan dari Laila, ada apa dengan dia? Ternyata ia menyuruhku datang kerumah Mita. Hmm.. ada apa ya? Kenapa dia menyuruhku datang kerumah Mita? Tapi ya sudahlah, tidak ada salahnya aku datang. Aku bergegas mencuci muka agar terlihat segar dan segera mengganti baju putih abu-abuku dengan celana jeans biru dan kaos putih. Ku kendarai motorku kearah rumah Mita.
Sampai di depan rumah Mita kulihat motor teman-temanku, ya... kira-kira ada  4 buah sepeda motor. Akupun semakin penasaran, ada apa sebenarnya. Ku langkahkan kakiku masuk ke ruang tau rumah Mita. Kulihat ada Laila, Ima, Nindi, Kyla, Cristin, dan tentu sang tuan rumah (Mita). Suasana saat itu sangat ramai, seperti biasa kami bercanda bersama. Tapi hanya aku dan Ima yang tak saling bicara, entah mengapa rasa sungkan datang setiap aku ingin bicara dengannya.
“nah, karena sekarang semua sudah hadir penbahasan kita mulai.” Ujar Laila bak seorang pemimpin rapat. Aku semakin dibuat bingung dengan kata-kata Laila.
“maaf, sebenarnya ada apa ini?” tanyaku pelan.
“gini Ra, aku sama teman-teman yang lain ga tega liat kamu sama Ima diem-dieman gini. Apalagi kalian berdua sudah bersahabat cukup lama. Masak hanya karena salah paham persahabatan kalian jadi berantakan.” Kata Nindi mengawali pembicaraan.
“iya Ra, aku juga sependapat sama Nindi. Sebelumnya aku minta maaf kalau selama ini aku cuek dan menghindar sama kamu. Jujur sebenarnya aku juga ga tega cuek sama kamu apalagi kita sudah bersahabat sejak lama.  Ini memang salahku, aku mengira Cristin tidak suka jika aku bersahabat denganmu, karena itu aku cuek dan meghindar sama kamu. Tetapi dugaanku salah, ternyata Cristin hanya memperingatkanku jika kita harus mengurangi bermain dan harus lebih serius untuk belajar karena akan menghadapi ujian sekolah ini.” Lanjut Ima dengan nada lirih.
Aku tertegun mendengar perkataan Ima. Aku bingung harus berkata apa lagi. Matakupun tak lagi sanggup membendung airmata yang akhirnya menetes dipipiku. Ternyata ini jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku itu, akupun tak lagi bertanya-tanya tentang hal itu. Semua sudah terjawab! Aku langsung memeluk Ima dengan erat.
“semoga ini yang terakhir, dan tak akan ada lagi salahpaham seperti ini.” ujarku ke Ima.
“iya, maafin aku ya. Semoga dengan kejadian ini kita bisa semakin berpikir lebih dewasa lagi.” kata Ima sembari tersenym.
“iya.” Kataku dengan membalas senyumnya.
Semenjak kejadian itu persahabatanku dengan Ima semakin membaik. Semua seakan kembali seperti dulu, bahkan sekarang kami bisa menyelesaikan masalah kami sendiri dan saling membantu satu sama lain.
Karena sahabat adalah orang yang selalu menyiapkan bahunya ketika kita butuh waktu untuk sekadar melepaskan penat atau bahkan ingin bersandar meluapkan tangis kesedihan kita. Sahabat adalah orang yang selalu menyediakan telinganya untuk mendengar celotehan kita. Sahabat juga selalu menyediakan hatinya untuk selalu lapang terhadap kesalahan-kesalahan kita.

1 comment:

  1. Sahabat,,,,,
    hanya itu yang akan selalu di kenang selamanya,,,
    ada mantan pacar dan mantan-mantan yang lain tetapi tidak pernah aku dapati yang namanya mantan sahabat
    tapi ingat,,,
    sahabat bisa saja menjadi musuh besar kita di karenakan kesalah pahaman atau ego kita masing-masing

    ReplyDelete